Sabtu, November 16, 2013

Ismunandar

Tentu kita masih ingat dengan atlet judo nasional angera "Ismunandar". Bagi yang udah luaaama gak ketemu, foto2 ini cukup memberi gambaran kayak apa Ismunandar saat ini. Tampak foto (atas) Ismunandar & keluarga kecilnya. Foto2 bawah, Ismunandar dg kawan2 di acara milad beberapa wkt yang lalu. 
Misriyati, Yoyok Sukarti, Yuni, Ida Munawaroh, K.H. Ahmad Mustofa, Ismunandar & Lily Ahmad.
Ismunandar bernostalgia di kamarnya dulu & di sungai Pabelan. Musti Ati2 kalo Ismunandar beratraksi judo./f

Label:

Selasa, Juli 27, 2010

Kenangan....

















Kenangan, Puisi Paling Indah

Kenangan adalah puisi paling indah di dunia ini, dan semakin indah bagi pelakunya atau siapa saja yang terbangkitkan ingatannya oleh kenangan yang terungkap. Termasuk dari foto-foto koleksiku ini.

Foto ini (dari kanan) Mohammad Sholeh Hasan, Ahmad Najib Amin dan Nurudin Abdullah, berpose setelah dilantik menjadi Ketua I, II dan III OPP. Acara pelantikan pengurus OPP putra berlangsung di gedung Perpustakaan, sesuai tahun tertera di foto pada 1983.

Seingatku, beberapa bulan sebelumnya, juga sempat foto bersama di suatu studio di Muntilan (dari kanan) Yan Sutarya, Muhammad Ahmad RAM, Nurudin Abdullah, Muhammad Sholeh Hasan. Lagi-lagi ini kenangan yang menjadi puisi sangat indah.















Ingin rasanya membuat lagi puisi yang sama. Tetapi tidak bisa. Dan sekedar untuk mengulang foto bersama 27 tahun lalu, sempat terwujud di rumahku, Ciputat pada 8 Juli 2010 (tanggal yang tertera di foto baru itu salah). Hanya saja, Yan Sutarya berhalangan datang.

Kemudian, kami tiga pasangan yang tumbuh dan bersemi dari tempat yang sama Pabelan, Ahmad RAM+Umi Mudzakirotin, Nurudin+Isna Hidayati dan Sholeh+Umi Saidah, mencoba untuk merajut kenangan baru, foto bersama dengan “pager bagus” pak Santoso dan Sarbini.















Mari kita semua bernyanyi dalam hati : “...kemesraan ini janganlah cepat berlalu, kemesraan ini ingin kukenang selalu, hatiku damai jiwaku tentram di sampingmu, hatiku damai jiwaku tentram bersamamu...Maaf dan trimakasih, (Nurudin & a.n. yang ada di foto)

Label:

Kamis, Mei 13, 2010

Pertemuan Terakhir dengan Luluk...

Pertemuan Terakhirku dengan
Luluk Khumaidah
(By: Dahlan)

Namaku Dahlan. Orangtuaku memilih nama itu dengan doa agar aku mendapat kelancaran dalam hidup. Dahlan merupakan singkatan dari mudah-mudahan lancar. Aku masuk di Pabelan pada 1980. Aku satu angkatan, masuk di tahun yang sama, dengan Luluk Khumaidah. Aku punya sedikit cerita tentang pertemuan terakhirku dengannya di Lamongan. Aku berharap ceritaku berikut punya manfaat. Kalau ternyata tidak, buang jauh-jauh sejauh tenaga bisa membuangnya atau kubur dalam-dalam sedalam dasar jurang ceritaku ini.

Berita Luluk Khumaidah meninggal dunia sungguh mengagetkan aku. Rasanya baru beberapa hari lalu aku bergurau dengannya. Saat itu aku dapat pekerjaan di Lamongan sekitar sepuluh hari. Aku harus meneliti dan mewawancarai keluarga Amrozi almarhum dan tokoh-tokoh “garis keras” lainnya. Selama di Lamongan, aku mencuri waktuku untuk bertemu dengan beberapa alumni Pabelan. Aku merasa tidak sopan jika tidak menemui mereka. Usia perpisahanku dengan mereka sudah lebih dari dua puluh tahun. Selain dengan Luluk Khumaidah, aku bertemu dengan Luluk Mursyidah dan Aisyah. Aku juga bertemu dengan semua suami dan anak-anak mereka. Rumah mereka saling berdekatan dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Di antara rumah-rumah mereka, terdapat rumah Fahimah. Aku tidak datang di rumahnya meskipun ia memintaku untuk melakukannya. Untuk itu aku harus minta maaf kepadanya. Ada dua alasanku tidak bisa memenuhi permintaannya. Pertama, ia tidak ada di kampung halamannya. Sekarang ia tinggal di Bekasi bersama suami dan anak-anaknya. Kedua, aku sudah bertemu dengannya saat ta’ziyah pada wafatnya Syarifah Azma beberapa bulan lalu. Semula aku juga ingin bertemu dengan Arimbi dan Miran. Niat tersebut tidak terwujud, karena pekerjaan utamaku di Lamongan melarangku. Aku tidak boleh berlama-lama terlarut dan terhanyut dalam kerinduan suasana Pabelan dulu.

Aku tidak tertarik untuk membicarakan pekerjaan utamaku di Lamongan. Aku lebih tertarik, khususnya, untuk menjelaskan kisah pertemuan terakhirku dengan Luluk Khumaidah, dan dengan beberapa alumni Pabelan yang telah kusebut di atas. Sekitar seminggu sebelum pergi ke Lamongan, aku menelpon Luluk Khumaidah. Aku mengabarkan kepadanya bahwa aku punya rencana pergi ke Lamongan. Aku bertanya kepadanya: apakah aku bisa bertemu dengannya? Apakah aku bisa mampir ngombe (sekadar numpang minum) di rumahnya? Ia menyatakan dengan bahasa yang secara singkat berarti: monggo (silakan). Ia bertanya kepadaku: kapan aku akan datang? Aku menjawab belum tahu. Aku berjanji kepadanya akan memberi kabar lebih lanjut, kalau sudah ada jadwal tugas yang pasti.

Dua hari sebelum pergi ke Lamongan, setelah aku mendapat kepastian pekerjaanku, aku menelpon Luluk Khumaidah. Ia tidak mengangkat hand phone-nya meskipun aku sudah menelponnya beberapa kali. Akhirnya aku mengirim pesan pendek (sandek), istilah lain dari short message service (SMS), ke Luluk Khumaidah. Aku kabarkan kepadanya bahwa aku pasti akan pergi ke Lamongan. Lewat sandek aku juga bertanya kepadanya bagaimana jalan darat yang bisa aku lalui untuk menuju ke rumahnya. Hingga menjelang detik-detik kepergianku ke Lamongan, aku tidak menerima jawaban sandek darinya.

Aku tidak mungkin mengubah jadwalku, hanya karena runtutan cerita di atas. Aku tidak bisa menolak pekerjaanku. Dua hari sebelum pergi ke Lamongan, sempat terlintas dalam pikiranku untuk pergi ke Surabaya melalui jalur udara. Kemudian meneruskan perjalanan darat ke tempat tujuan. Aku terpaksa membatalkan niatku pergi dengan pesawat sesuai kontrak kerjaku, karena: tidak ada deadline jam kapan harus datang di tempat tujuan; bosan naik pesawat ke banyak tempat yang berbeda, dan yang lebih penting; tidak ada kenikmatan perjalanan tanpa bisa menghirup asap nikotin.

Aku memutuskan pergi ke Lamongan dengan kereta api. Aku tidak naik bus. Ia tidak memberikan kemewahan suasana perjalanan dengan menghirup asap nikotin, kecuali saat ia berhenti di restoran atau di pom bensin. Awalnya aku ingin naik Sembrani. Aku batal menaikinya karena ia tidak berhenti di Lamongan, tetapi di Bojonegoro dan Surabaya. Keduanya masih terlalu jauh dari tempat tujuan kepergianku. Aku memutuskan untuk naik Gumarang, karena ia berhenti di tempat tujuan kepergianku. Aku naik Gumarang kelas eksekutif.

Kereta Gumarang berangkat dari Stasiun Senen pada 19.00 dengan tujuan akhir Surabaya. Seperti yang sudah aku sampaikan di atas, sampai menjelang keberangkatanku ke Lamongan aku masih menunggu jawaban dari Luluk Khumaidah. Aku kira waktu itu ia sedang sibuk, sehingga tidak sempat mengirim sandek ke HP-ku. Aku berpikir begitu, karena aku pun akan melakukan hal yang sama jika sedang sibuk dan banyak tugas yang mengejarku.

Saat Gumarang mau meninggalkan Stasiun Senen, tiba-tiba aku teringat pada Fahimah. Aku segera menelponnya, minta tolong kepadanya untuk memberikan nomor HP teman-teman di Lamongan. Tidak lama kemudian di layar HP-ku muncul nama Luluk Mursyidah disertai dengan nomor HP dan alamat rumahnya. Aku langsung menghubunginya. Sayang ia tidak mengangkat HP-nya. Kemudian aku mengirim sandek kepadanya: aku sudah di atas kereta api dalam perjalanan menuju Lamongan, dan akan tiba pada 04.30 pagi. Aku juga bertanya jalan darat yang harus kulalui untuk pergi ke rumanya. Beberapa saat aku menunggu respon, tetapi hal itu tidak datang. Sambil menunggu jawaban, aku menikmati makanan yang kubeli di Stasiun Senen. Setelah selesai makan aku pergi ke gerbong restoran. Aku mau menikmati asap nikotin.

Di gerbong restoran, hasratku menikmati kepul asap nikotin terpuaskan. Aku sebenarnya juga bisa menikmatinya di antara sambungan gerbong. Aku tidak memilih alternatif terakhir, karena akan merasa seperti orang hilang: sendirian dan tidak ada hiburan. Ada pun di gerbong restoran, selain menikmati hasil jerih payah buruh kebun tembakau dan cengkeh, aku bisa menonton televisi atau bernyanyi karaoke bersama penumpang lainnya. Di gerbong ini banyak orang datang dengan tujuan beragam: makan, minum (kopi, teh, susu, soft drink, bir, wine), sekadar jalan-jalan, menonton televisi, menyanyi karaoke, menikmati asap nikotin, dan lain-lain.

Di atas gerbong restoran pikiranku lupa dengan teman-teman Pabelan di Lamongan. Aku sudah berusaha menghubungi mereka. Mungkin mereka sedang sibuk, sehingga tidak bisa memberikan respon dan jawaban. Waktu itu aku berpikir, kalau pun pada akhirnya aku tidak bisa berkomunikasi dan tidak bertemu dengan mereka, aku tidak perlu menyesali diri. Aku pergi bukan untuk menemui mereka. Aku pergi karena aku punya pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku harus fokus terlebih dahulu dengan tujuan utama kepergianku. Kemudian memikirkan pertemuanku dengan mereka. Aku merasa yakin bisa menemui mereka, karena punya sebuah alamat yang jelas: Luluk Mursyidah di Pesantren Karangasem, Paciran, Lamongan.

Saat mataku tidak bisa diajak kompromi lagi untuk terus menikmati suasana di gerbong restoran, aku pun memutuskan kembali ke gerbong eksekutif. Aku merasa ngantuk dan ingin segera tidur. Jam di tanganku menunjukkan angka 23.40. Sebelum menjemput impian indahku, aku menyempatkan diri menemuiNya dalam keadaan darurat: shalat sambil duduk di kursi.

Usai shalat aku teringat pada posisi HP-ku. Aku segera mengambilnya di saku celanaku. Ternyata HP-ku dalam keadaan silent selama aku di atas kereta api. Di layar monitornya terlihat ada beberapa missed calls dari nomor yang sama. Terlihat juga ada satu sandek, yang menganjurkanku turun di Stasiun Babat, bukan di Lamongan, jika aku mau ke Paciran. Aku segera membalas sandek tersebut, meminta maaf bahwa aku baru tahu ada sandek yang terkirim ke HP-ku. Tidak lama kemudian sinar di monitor HP-ku berkedip, tanda ada orang yang menelponku. Aku mengangkatnya. Di seberang sana terdengar suara perempuan, yang sudah lebih dari dua puluh tahun aku tidak bertemu dengannya: Luluk Mursyidah. Di tengah pembicaraanku dengannya, ia memintaku untuk berbicara dengan suaminya. Inti pembicaraanku dengan mereka berdua adalah penjelasan atas sandek yang terkirim: alasan anjuran kepadaku untuk turun di Babat.

Aku merasa lega usai bicara dengan mereka berdua di telpon. Tugas utamaku di Lamongan sudah terbayang jelas: nama-nama yang menjadi nara sumberku, materi wawancara, obyek yang harus diamati, dan lain-lain. Selain tugas utama tersebut, aku merasa senang karena yakin bisa bertemu dengan teman-teman Pabelanku dulu, termasuk dengan Luluk Khumaidah, yang memberiku inspirasi dalam cerita ini.

Sulit mengungkapkan secara utuh suasana batinku saat bertemu dengan teman-temanku: Luluk Mursyidah, Aisyah, dan Luluk Khumaidah. Di antara tiga nama tersebut, aku menemui Luluk Mursyidah terlebih dahulu, karena dialah yang memberiku petunjuk perjalanan untuk mencapai rumahnya. Setelah bertemu dia, aku menemui Aisyah dan kemudian Luluk Khumaidah. Pertemuanku dengan dua nama terakhir ditemani Luluk Mursyidah disertai keponakan dan suaminya.

Khusus tentang pertemuanku dengan Luluk Khumaidah, aku sengaja tidak bertanya mengapa ia tidak membalas sandekku. Aku merasa tidak sopan dan pasti akan mengganggu obrolan, jika aku membicarakan hal tersebut. Saat bertemu dengannya aku merasa kaget dengan tubuhnya. Ia sedang hamil. Ia tidak menutupi kenyataan tersebut. Ia menyatakan usia kehamilannya sudah tua dan mendekati hari kelahiran janinnya. Sempat terlintas dalam pikiranku untuk bertanya tentang kehamilannya. Tapi aku langsung mengurungkan niatku tersebut. Aku khawatir salah bicara, yang akan mempengaruhi substratum psikologis dan janinnya. Aku putuskan untuk membatasi pembicaraanku dengan Luluk Khumaidah seputar “kerinduan pada suasana” di Pabelan dulu. Setelah hampir seperempat abad aku tidak bertemu dengannya, ada satu bahasa tubuhnya yang tetap abadi: senyum manisnya.

Demikianlah catatan ini aku buat. Aku sengaja membuatnya untuk mengenang temanku: Luluk Khumaidah. Aku merangkai kata demi kata di dalamnya di Hotel Aryaduta Palembang, saat aku ada pekerjaan di kota yang terkenal dengan Pempek. Di kota ini aku sebenarnya ingin bertemu dengan alumni Pabelan. Namun usahaku sia-sia: nomor yang ada tak bisa kuhubungi, telponku tak diangkat, dan sandekku tak cepat terbalas. Bahkan ada seorang alumni yang kuminta tolong, tapi ia tak percaya kalau aku adalah alumni Pabelan. Mungkin ia bercanda. Pusing kepalaku memikirkan semua masalah tersebut, maka aku putuskan untuk membuat catatan ini. Selamat tinggal Luluk Khumaidah. Semoga ilmu yang kau tinggalkan di alam fana ini bermanfaat bagi masyarakat banyak. Semoga anak-anakmu setia mendoakanmu di alam baka sana. Semoga Allah menerima semua amal jariahmu. Dan akhirnya kau pun kembali ke pangkuanNya dengan khusnul khotimah. /f

Label:

Selasa, Februari 02, 2010

siapakah mereka???



Latar belakang foto abg 80-an ini berbeda-beda. Yang paling alami di bawah pohon (siapa ya? Indra??) dan di kolam kunci (Kristianti margarini?). Kalau Baroroh dan adik kelas angera berbaju biru (?) dan Mamah sudah jelas di studio kebanggaan santri Pemuda Muntilan. Tapi kok ya Mamah bisa-bisanya berfoto ria di pohon natal si??? Apa waktu itu dia berfoto pas natal ya. He...




Indah sekali kolam kunci ini dimasa lalu. Tempat nongkrongnya santri putri sambil melihat-lihat ikan warna warni berenang dan berebutan kalau santri pas nyuci piring yang masih ada sisa-sisa nasinya. Sekarang....kolam kunci tinggal kenangan...







Ini dia yang namanya Baroroh asal Lamongan. Santriwati yang terkenal kuat hafalannya. Apalagi kalau sedang menghafal, temen2 yang berada disampingnya bisa-bisa ikut hafal juga karena suara Baroroh yang merdu merasuk ke dalam kalbu..

Label:

Rabu, Januari 20, 2010

Kunker Suami K'Odi ke PKU


Ada yang masih ngat dengan Kak Odi (Khodijah) asal Palembang? Bagi yang mengenalnya, pasti ingat dong..terutama yang pernah dekat dengan kakak kita ini, kira2 siapa ya...ehem..sepertinya dari Bandung tea...(maaf ya kalau salah dan membangkit kenangan lama, he..)

Kak Odi yang tinggal di kota Palembang, tiba2 SMS saya. Katanya, sang suami akan berkunjung ke Pekanbaru, jangan lupa minta diliput, canda Kak Odi. Tentu saja kabar ini menggembirakan, walau Kak Odinya nggak ikut. Paling tidak bisa kenal dengan suami Kak Odi yang sekarang ini duduk sebagai anggota DPRD Sumatera Selatan dari FPKS. Selain itu, saya memang harus kenal, sebab sekitar Februari nanti giliran saya yang berkunjung ke Palembang. Tapi bukan sebagai anggota dewan yang terhormat, lho...kebetulan ada momen Porwanas (pekan olahraga wartawan nasional) di Palembang. Kebetulan lagi kita ikutan sebagai atletnya IKWI (Ikatan Keluarga Wartawan). Pucuk dicinta ulam pun tiba, suami Kak Odi datang. Bisa taarruf duluan deh. So, ketemu di Palembang nanti sudah saling kenal. 
   
Nama suami Kak Odi HM Tukul. Berkunjung ke DPRD Riau dalam rangka membicarakan tentang anggaran, makanya rahasia. DI pintu aula tertulis RAPAT TERTUTUP. Jadinya ngga bisa ikutan di dalam. Pas ketemu di sela-sela rapat, kesan pertama begitu mengesankan. Wajah ramah penuh senyum Pak Haji ini yang membuat sejuk dan terasa akrab duluan. Rasanya sudah lama kenal gitu. Cerita Pak Haji dia tamatan Gontor. Ayah Kak Odi guru ngajinya dulu. Sekarang mereka sudah dikaruniai enam orang buah hati. Yang sulung kelas 3 SMU, dan yang bungsu berusia 6 tahun. Ah...jadi pengen cepat2 ke Palembang, biar bisa juga ketemu Kak Odi sekeluarga.

Mudah2an, bisa juga ketemu temen2 lain, Iqbal, Sidiq Berlian, Sudiran, waduh siapa lagi ya..temen2 Palembang. Yang tahu beritahu ya...(n)


Label:

Selasa, Desember 29, 2009

Foto Jadul Rahmatia Djou


Ternyata teman-teman kita dari Kupang banyak juga ya. Diantaranya ya ini, kakak kelas dan adik kelas ANgera. Kalau tak salah Ama Waliulu, Saodah, Purawati Harun, Suryati Maulana dan Rahmatia Djou. Memandang foto jadul mereka mau tak mau teringat akan masa lalu, terutama bagi teman-teman yang sempat bergaul, bercengkrama dengan mereka-mereka. Dan memang, sebuah foto bisa membuat kita tersenyum manis, kecut, tergantung pengalaman yang pernah dialami semasa bersama. Tapi sepertinya memandang teman-teman Kupang kita ini yang ada hanya senyum manis, karena disamping mereka manis manis, juga kenangan dengan mereka manis semua. jadi senyum kita makin manis deh terkenang si hitam manis./n 

Label:

Selasa, November 10, 2009

Sekelumit kenangan tentang Warni

''Eee...jangan dipeluk kuat-kuat,'' ujar Warni saat saya ingin memeluknya di kediaman Mba Ikun awal Juni 2009 lalu. Saya lupa ketika itu akan penyakit yang diderita Warni. Rasa haru dan bahagia membuat saya ingin mendekapnya erat. Sebab saya tak menyangka akan bisa bertemu dengan Warni, yang kabar sakitnya sudah diketahui di blog ANgera. Apalagi sudah puluhan tahun tak bertemu tepatnya sebelum saya meninggalkan Ciputat sekitar 1993. Di Ciputatpun kita nyaris jarang bertemu, karena beda fakultas dan tempat kos yang berjauhan.
  Kepergian saya ke Jakarta waktu itu benar-benar merupakan berkah, rezki yang tak terhingga. Ibarat kata pepatah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain tugas, saya bisa bertemu dengan teman2 lama terutama Warni tentunya, yang kebetulan juga berada di Jakarta.
  Namanya saja lama tak jumpa, tentu banyak topik yang kita bicarakan, khususnya tentang masa lalu. Walau secara fisik Warni sakit, tapi wajahnya selalu sumringah dan ceria. Saya cukup terkesan dengan ingatan Warni tentang masa lalu saya yang tak banyak orang tahu, tetapi Warni mampu mengingatnya dengan jelas. Bahkan saya sendiri juga agak lupa dengan hal-hal tertentu, yang ternyata diingat Warni.
  Kini Warni telah kembali kepadaNYA. Selamat jalan kawan, semoga Allah menerima segala amal ibadahmu dan meletakkanmu di salah satu surgaNYA. Amin.....

Label:

Mengenang saat-saat terakhir Warni

Ini hanya sepenggal memori bersama Warni saat-saat terakhir-nya di Jakarta. Saat pertemuan IKPP kemarin, Meli menyarankan kami-kami untuk segera menengok. Kata Meli: ini tinggal menghitung hari, cepat datang. Aku nggak pernah nangis melihat orang sakit. Tapi kemarin aku bener-bener nggak tega melihat Warni sudah tidak bisa berbaring, harus duduk dan ditumpu bambu punggungnya dan bantal depannya untuk mengurangi sakitnya. Waktu aku datang, dia menangis dan menyebut aku dan tertunduk lagi. Sudah cepat kesana sekarang-sekarang ini". Kami tergetar dg dorongan Meli, akhirnya beberapa dari Angera pingin datang tapi lagi menghitung waktu dan baru realistis 2 minggu lagi untuk menengok Warni ke Banjarmasin. Tapi rupanya pagi tadi sudah ada kabar lain. Ini cerita-cerita mengenang Warni agar kenangannya tetap hidup bersama kami para sahabat-sahabatnya.

Tiba-tiba Warni manggil: "Yun, sini temenin masuk, biar aku nggak sendiri, bisa ngobrol-ngobrol sama mami (therapistnya)". Dalam proses therapy ini, kalau mbak ikun sibuk, dia mendelegasikan ke Titik adiknya yang selalu setia seminggu 3 kali menemani berobat. Sesekali kalau senggang, saya pernah antar atau mampir untuk mengobrol dg warni diantara deretan sahabat-sahabat dia yg lain. Sambil ditherapy (medical herbs di Jakarta), ngobrol banyak dg Therapist-nya, mama Ross dari Papua. Dari obrolan ini beliau cerita, bahwa beliau doktor dari Harvard ahli herbal khususnya tumbuhan dari Papua. Mama ini pernah mengidap kangker payudara stadium terminal juga, tetapi semangat hidupnya luar biasa, sehingga bersikukuh melawan kangkernya dan bisa sembuh total. Saat didalam menemaninya, berkali-kali dia tanya ke therapist: "mama, saya bisa sembuh kan?". Mama bilang, "kamu kesini saat sudah parah sekali, ini ibarat bengkel, mama harus benerin mobil yg sudah rusak, mogok. Jadi memang harus diserahkan sama yang diatas, tapi kita tetap harus semangat sembuh". lalu warni agak marah: "ma, masak mama nggak semangat, kalau mama nggak semangat, gimana saya semangat. Ayo dong ma, yakin saya sembuh, saya jadi juga semangat sembuh". Lalu mama bilang, oke, kita sama-sama semangat ya (6 bulan lalu). Ini pengobatan intensif kedua setelah di Sukabumi. Kekuatan keluarga dan sahabat membuat Warni bersemangat sekali pulih.

Ini makanan yang dikonsumsi, tawar rasa, selalu makan sayur buah dan betul-betul cuma tawar dikukus. Kadang kalau kita nengok, sering kita ledek, "war, makanya sembuh, nih enak kan rendang, mie goreng, somai, dll". Dia paling suka kalau dianggap seperti orang normal, yang sembuh, diledek, diajak bercanda. Tiap mau pulang, sering dia pesan, cepet kesini lagi ya. Sahabat-sahabat sekelasnya dan sekost-nya di Ciputat juga sering menemani hilir mudik di rumah mbak Ikun yang ikhlas mensuport luar biasa saat Warni tengah menjalani therapi.

Saat bu RT Nuri datang, walaupun sakit, Warni bersemangat menjenguk mbak Syarief bersama-sama (2 bulan lalu mbak Syarif sudah pergi selamanya karena jantung). Padahal jarak rumah mbak Syarif di Pondok gede lumayan jauh, tetapi karena becanda sama-sama dengan bu RT dan geng yang ada dalam foto itu, atmosphere dia sakit tak terasa.


Ini saat ditengok kak Amin, Mpok Ipik (Alfiah) dan suaminya, sekalian menyambut bu RT. Ngumpul ramai-ramai menemani Warni makan.

Sebetulnya ada foto yang paling akhir sebelum Warni pulang ke Banjarmasin, saat ada Fatra yang lagi di Jakarta dan menengok bersama-sama juga. Disitu dia sudah merasa bahwa kakinya terasa patah, tidak bisa digerakkan, sehingga harus pakai kursi roda. Tapi pas foto dia pesan: fotonya jangan dilihatin kaki dan kursi rodanya ya, biar kelihatan sehat kalau ditaruh di Angera nanti. (Fotonya sedang dicari).

Selamat jalan Warni.... doa tulus kami. Dua keluarga Angera sudah tiada, Warni dan Wati, keduanya mengidap penyakit yang sama. Semoga kepergiannya membawa pesan untuk kita semua, bahwa kesehatan itu berharga./yc

Label:

Selasa, Juli 28, 2009

Agus Chaidir Penuh Kenangan


Sebelumnya, semoga Allah menerimamu disisiNYA dan memberikanmu
tempat di syurgaNYA sahabat kami AGus Chaidir. Amin...
Walau dirimu telah mendahului kami menemui yang Kuasa, namun kenangan 
tentangmu tetap terpatri di hati kami. Candamu, senyummu, 
rasanya baru kemarin kami nikmati. Apalagi gayamu yang juga jago pantomim
mirip sekali dengan tokoh remaja kita dulu, Septian Dwi Cahyo. Bukan hanya gaya,
tapi wajahmu pun ada kesamaan. Engkau mampu membuat kami bahagia dengan
tingkahmu. Dan itu insyaAllah menjadi amal ibadah bagimu.
Sahabat kami...yang sudah bahagia disisi Allah....terlalu banyak kebaikanmu yang
kami ingat, sehingga tak bisa kami sebut satu persatu. Hanya doa yang tak henti-henti
kami beri, untukmu sahabat kami, semoga pahala dari kebaikan dan amalmu selalu
bersemi hingga akhir nanti.(nur)

Label:

Senin, Juli 27, 2009

SOBAT ERA

 

YUNI GAYANYA KEREN TUH YANG PAKE TOPI. TOP ABIS. 
POKOKNYA YUNI JANGAN KAGET DEH FOTO INI MUNCUL.
IANAH YANG SEDANG BERPETUALANG DI HUTAN MBELAN
SEDANG MENCARI JALAN PULANG KE KAMAR
DAN SATUNYA INI FOTO SIAPA YA???? APAKAH DIA MEA,
TEMAN KITA DARI KUPANG??????




Label:

Rabu, Juli 01, 2009

Konsulat Sumatera


Foto santri yang berasal dari konsulat Sumatera ini usai merayakan HUT Himpunan Pelajar Sumatera (HPS) di komplek Gedung Bupati. Hampir semua santri puterinya hadir. Sedangkan yang mewakili santri putra cuma beberapa orang. Diantaranya Sudiran, dan dua mahasiswa IPM Yasrib dan Mudassir. Untuk dua orang ini, teman-teman angera pasti tahu,kan? Apalagi salah satunya, Yasrib Yakub Tambusai berasal dari Riau berhasil menyunting sahabat Era, Uswatun Hasanah dari Semarang.

Label:

Selasa, Juni 23, 2009

Dewi, Ria, Warso, Wanted!!!


Masih ingat, kan dengan teman-teman kita ini. Ya, Dwi Dara Dewi, Ria, dan Warso (Warningsih). Kru angera sama sekali belum bisa menemukan teman-teman tercinta ini. Jejak mereka belum terendus. Ayo, siapa yang tahu??? Berikan kabar baik tentang blog angera, sebagai langkah awal wadah untuk bersilaturahmi.
Foto ini diambil ketika di Kamar Mentari sekitar tahun 1984. Kamar yang berukuran kecil ini selalu ceria, karena diisi oleh orang-orang yang heboh. Diantaranya ya mereka-mereka ini Dwi Dara Dewi dan Ria konsulat Jakarta.
  Selain mereka di atas,  melihat kotak (lemari) yang disusun bertingkat mengingatkan kita kepada masa lalu. Apalagi di saat pindah kamar yang kalau tak salah berlaku setiap semester. Saat itu hari yang ditunggu-tunggu, dimanakah kamar baru kita dan siapa saja yang akan berbaur di dalam kamar itu? Tentunya saat itu juga hari yang paling sibuk dan cuapek....mengangkut lemari, memindahkan barang-barang, kasur, keranjang dan ...menyusunnya kembali. Yang lebih parah kalau dapat kamar dari ujung ke ujung. Dalam hal ini pendamping harus pandai mengatur, agar terasa lebih lapang dengan penghuni yang banyak. Maklumlah...kita kan sekamar bisa puluhan orang dengan luas yang pas-pasan. Tapi disitulah indahnya Pabelan. Kita semakin dekat, semakin lekat, semakin erat dalam persaudaraan. Uniknya, kita juga bercampur baur dengan semua angkatan. Duh.....mengingatnya kembali menimbulkan rasa rindu.(nuri)

Label:

Jumat, Mei 22, 2009

Belajar Dari Perjuangan Warni

Warniaty AZ, salah satu sahabat tercinta kita yang sedang berjuang hebat membangun serpihan-serpihan semangatnya untuk kembali bangkit. Perjuangan spiritual melawan penyakit kangker yang dideritanya dan menata mozaik hidupnya patut kita teladani. "Aku bersyukur seperti diberi kesempatan hidup kedua kali, aku ibarat bayi kecil yang tengah berjuang marangkak lagi sekarang..." begitu tutur mendalamnya saat ditemani makan "sehat" yang oleh lidah orang biasa pasti sulit tertelan. Karena semangatnya untuk sehat, nasi putih dan daun-daun segar lalapan dinikmatinya dengan wajar, karena banyak pantangan untuk pengaturan dietnya. Warni untuk yang kesekian kali menjalani therapy panjang mengusir kangker yang dideritanya. Dulu beberapa bulan di Sukabumi dan sekarang di Jakarta. Karena cinta keluarga dan sahabat-sahabatnya, terutama karibnya (kakak kelas kita/pernah jadi pendamping kita yang selalu pengasih dan pemurah), mimpi warni untuk sembuh menjadi niscaya.

"Yun, mahal nih kamu setirin". (dalam hati..aku cuma nggak ada apa-apanya nemenin kamu beberapa jam, tapi mbak Ikun lebih setia 24 jam menemani kamu War). "Iya War, mahal banget nih supirnya...kamu harus bayar yang setimpal dengan gendong aku ya War, kalau udah sembuh". "Iya Yun...artinya aku memang harus sembuh ya biar bisa gendong kamu". Begitu salah satu percakapan saat mengantar therapy Warni dengan aneka canda yang sepintas tidak menyangka kalau Warni sedang sakit. Sesekali getaran suara sakitnya bisa ikut kita rasakan..tapi ditepisnya dengan berusaha tenang menahan. "Dulu aku nggandeng orang buat aku antar berobat ya..sekarang kok gantian aku yang dituntun-tuntun"... Banyak lagi percakapan ringan selama perjalanan. Seminggu 3 kali Warni ditemani Titik (adik mbak Ikun) untuk terapi. Therapistnya tamatan S3 Harvard ahli herb/farmacognosis. Mami ini (panggilan para pasiennya) sudah 78 tahun, pernah 4 kali koma karena kangker payudara dan sekarang bisa sembuh. Mami tak bisa janji, tapi mami berusaha keras untuk bisa membantu menyembuhkan". Dengan asik mami ngobrol dengan Warni dan pengantarnyapun bebas nimbrung. Mami...semoga melalui jari-jari dan budi hatimu sobat kami bisa kembali ceria bersama kami. Amien/yc

Label:

Selasa, Mei 19, 2009

Beli Kulo Kethek

BY : Diah Rofika

Beli “KULO KETHEK (Boso Jowone Monyet)”

Ketika di Pondok dulu, ada teman seangkatan yang namanya Siti Sa’diyah dari Jakarta . Sebetulnya sih tuh anak dia punya orang tua aslinya dari Alor NTT, makanya rambut diapun keriting kecil-kecil dengan kulit khas orang sana he….he…..

Sa’diyah ini orangnya kocak and lucunya minta ampun. Setiap berada di dekatnya yang terdengar pasti gelak tawa yang ramai, cekikikan bahkan terkadang sampai terkecing-kencing. Itu semua disebabkan karena kami tak tahan mendengar banyolan-banyolannya yang lucu dan konyol. Benar-benar menjadi hiburan bagi kami yang merasa sedih karena jauh dari orang tua. Sayangnya justru dia yang lebih dulu meninggalkan Pondok.

Nah suatu hari, kami duduk-duduk di bangku beton di depan kantin putri. Biasalah, ketika waktu istirahat sekolah salah satu tempat yang selalu kita tuju adalah deretan bangku beton yang berada di depan kantin di antara tower-tower air yang segede alaihim itu, untuk melahap klepon, kemplang, atau jajanan lain yang ada di kantin. Kebetulan hari itu aku dan rombonganku beli manisan gula kelapa dengan warna pinknya yang menggoda. Ketika kami sedang bercanda ria sambil menikmati manisan gula kelapa, Sa’diyah nongol. Melihat kami makan gula kelapa dia pun menginginkannya. Akhirnya dia bertanya” makanan apa itu, kok warnanya pink?”

Spontan aku menjawab “ini namanya kulo kethek. Udah sana beli, bilang aja mbak Fat beli kulo kethek”

Dengan langkah pasti dan penuh keyakinan (maklum baru habis terima wesel ), dia melangkah menuju kantin dan disambut oleh tatapan mata dingin mbak Fat. Mungkin mbak Fat berfikir, anak ini pasti bakalan ngutang tampangnya aja kayak preman he….he…. Selanjutnya dengan suara yang mantap Sa’diyah berkata “mbak beli kulo kethek”. Tergelaklah semua santri yang berdiri di depan kantin (tentunya yang berasal dari Jawa ya) mendengar apa yang dikatakan oleh Sa’diyah, tak terkecuali mbak Fat. Kami yang berkerumun di bangku beton pun ikut tergelak sampai terbungkuk-bungkuk sambil memegangi perut bagian bawah. Sa’diyah yang lugu dan polos terbengong-bengok sambil memandangi kami yang sedang terpingkal-pingkal. Setelah agak reda, mbak Fat berkata “gak ada makanan itu di sini. Kamu tahu gak apa artinya itu” Dengan mantap Sa’diyah menjawab “itu makanan yang warnanya pink, kulo kethek” Kamu dibohongin teman-temanmu, ini namanya gula kelapa. Kulo kethek itu artinya saya monyet”, terang mbak Fat. Berlarilah Sa’diyah ke arah kami. “Hai kurang ajar kalian, udah ngerjain aku”, tinjunya mengarah ke aku. Langsung saja aku berlari menghindarinya dan kembali ke kelas, tentunya mampir dulu ke kamar mandi mentari.

Buat Siti Sa’diyah, di manapun kamu berada saat ini, aku minta maaf ya.

(Bu moderator, tolong kisah ini dimuat di Angera ya. Siapa tahu bisa melacak keberadaan Siti Sa'diyah. Tq-Diah)

Label: ,

Rabu, Mei 06, 2009

Enam Sohib ANgkasa


(Dari kika: Nur Salim, Miftah Syarif, Apipudin Tegal, Mansur, ALfan Firmanto dan Khoironi)

Inilah enam sohib Angkasa yang wajahnya cukup lumayan guantenggg, juga culun dan imut-imut. Kira-kira ini tahun berapa ya? Diantara mereka yang sering kita tahu kabarnya yang pertama, so pasti Alfan Firmanto, Apipuddin Tegal, Miftah Syarif dan Mansur. Tapi yang dua lagi Khoironi dan Nur Salim, kita belum tahu kabarnya. Soalnya pas reuni 2008 kemarin batang hidungnya tak nampak. Allow....dimana kalian sohib angkasa? Apakah sudah tahu keberadaan kita blog ANgera? Untuk melepas kangen, silahkan buka blog, pasti terobati deh./nj

Label:

Minggu, April 26, 2009

Baroroh: Aladin Pelahab Buku


Baroroh si Aladin Pelahab Buku malu dijuluki ms seperti itu. ''Ms ini ada-ada aja. Malu ah...,'' kata Baroroh sambil menutup wajahnya. Mamah, hastin Nurhayati tertawa dengar komentar Baroroh. Sementara Yayan, adiknya si Taufikawati dari Depok itu, cuek bebe. Terserah mo dijulukin apa.

''Sebenarnya saya lho si pelahab buku itu, bukan Baroroh,'' kata Nuri. ''Bukan ding, si Nuri ngaco! Yang bener tuh emang Baoroh. Jangan percaya, ya!'' Kata Helmi. Sementara Misri yang melempar isu tenang-tenang aja. Lihat aja tuh, wajahnya kayak ngga tau apa2. Lihat, kan yang pake baju lurik garis panjang. Dan Barorohnya hanya bilang, ''terserah kalian aja deh mo ngomong apaan.'' (hik1000x, sambil ngintip kamera angera. Untung kepalanya masih kelihatan. Jadinya kita tahu kalau dia yang diomongin)

M
asih ingatkah dengan temen kita mbak BAROROH dari LAMONGAN?, pasti masih lah... ya kan?? menurutku dia itu unik dan cara belajarnya
pun unik . Aku punya kenangan unik juga sama dia...hik4567
Inget dia seraya inget wajah lugunya, tapi jangan di tanya dia termasuk murid yang brilliant, rajin, tekun dan selalu masuk di lima besar.
Setiap mau memulai ujian semesteran, apa lagi di saat masuk di hari-hari tenang, dia sudah sibuk menjinjing setumpuk buku untuk di lalapnya saat itu juga,
dia termasuk hebat dalam soal hafalan tapi yang buat aku terkesan sampe saat ini adalah kegigihan dia untuk menjadi orang yang terbaik.
Dia beberapa kali masuk di peringkat pertama, ya wajar aja kalo dia bisa mencapai di peringkat itu dan aku setuju-setuju aja, dan itu memang pantas
untuk dia. Saking semangatnya, di waktu masih dalam jam makan, kita-kita yang masih menikmati makan yang ala kadarnya bahkan masih ada yang antri
mengambil makan di dapur juga kantin yang masih padat penuh orang, dia sudah mulai strat untuk belajar. Sambil membawa buku dan sajadah untuk alas duduknya, dengan langkah seperti terburu-buru mau nyari tempat untuk mojok belajar. Bisa juga dia berperilaku seperti itu karna takut tempat semedinya keburu di ambil orang lain...hik4567...Biasa kan kalo di pondok siapa cepat pasti dapat.
Tapi dimanapun mbak Baroroh belajar aku usahain selalu dapat tempat di deket dia, pasti aku cari dulu keberadaannya.
Ya itu karna cara belajar dia unik jadi membuat aku selalu ngikutin kemana dia belajar. Entah dia curiga atau gak tentang aku manfaatin cara dia belajar tapi aku selalu bilang ke dia kalu aku mau belajar sama2..Dan jarang sekali dia belajar di kelas, seringnya di luar dengan menggelar sajadah dan cari di tempat yang teduh dan nyaman. Dia orangnya serius jadi jangan harap ada pembicaraan di sela2 belajar. Gak kayak aku sedikit belajar banyak becanda...hik4567.
Oiya dia itu kalo belajar selalu pake suara keras, gak cuma pelajaran hafalan aja, jadi bagi aku itu sangat menguntungkan buat ku. Mungkin bagi orang lain itu amat sangat mengaggu tapi bagi aku gak sama sekali. Jadi setiap menghafal satu pelajaran pasti kan di ualng2 beberapa kali sampe betul2 hafal, aku dengerin aja dia menghafal setiap dia belajar dan aku ikutin trus, lama2 akupun ikut hafal juga....tanpa aku harus membaca buku...hik4567...sekali mendayung 4567 pulau terlampaui...ya gak????, ya itu lah sebagian pengalamanku sewaktu aku di Pabelan, walaupun gak pernah masuk di sepuluh besar tapi kan bisa belajar seperti orang yang di peringat tiga besar...hik4567.../MS

Label:

Sabtu, April 11, 2009

Menengok Nawal di Cikunir

Nawal Rahmawati sudah berusia 4 tahun, mulai sekolah playgroup jelang TK. Ceria, cantik, ramah dan kenes. Kalau diajak ngobrol sangat responsive. Waktu diajak Lily ngobrol berbisik: "Ikut mama Lily ke Jogja yuk..". Dengan berbisik juga dia bilang : " enggak ah....kasihan umbay (nenek) sendirian. Umbay kan sayang Nawal". Ada juga satu peristiwa kecil yang lucu yang menunjukkan betapa Nawal observer yang baik dan sangat kritis. Ceritanya karena buru-buru mau pulang takut mama Lily kemaleman, bunda Yuni sholat Maghrib express dulu dikamar. Ya, pasti kilat karena tanpa doa. Pas keluar dari kamar, dengan wajah full heran bin ta'jub Nawal tanya: " udah sholat?". " Udah, kenapa sayang?". " Kok cepet banget!!", katanya menyelidik!! Alahhh mahkk...Wati banget!!!

Lily saat habis pelatihan hakim di Megamendung menyempatkan silaturahmi bareng, salah satunya ke Nawal-mama Wati dan juga ayah Nawal, Yusuf Rahman yang saat ini tinggal di Villa Inti Persada (jalan raya Ciputat Parung). Nawal sudah punya ibu pelanjut lagi, mami Nelli, dan punya adik kecil 2 tahun. Buat alumni CIputat, Nelly keponakan mbak Uci batik Turidu samping Formaci). Nawal menemani umbaynya (mama Wati) yang kini sebatang kara di Cikunir. Duh..bocah itu sudah tumbuh bijak dan peka, pintar dan gigih...(nanti kapan-kapan akan diupload foto aneka gaya dia yang suka dengan kamera).

Label: ,

Sabtu, Maret 07, 2009

Meeting di Mataram

Beberapa waktu yang lalu (sekitar akhir bulan Pebruari 2009),
rekan kita "Miftah Syarif" (suami sahabat kita Maimunah SM)
berkesempatan mampir ke kota Mataram (NTB) untuk sebuah tugas. Tentu saja moment ini tak dilewatkannya untuk mengunjungi sahabat "ADI UMAR" yang telah puluhan tahun tak bertemu. Pertemuan itu diabadikan dalam beberapa foto, namun entah mengapa fotonya hanya dapat dinikmati dalam ukuran kecil. Dalam kesempatan itu pula, Miftah bertemu teman alumni (adik kelas) Abdurrokhim. Sekedar kita ketahui, bahwa Adi adalah salah seorang penggagas acara reuni "Angera Plus" tempo hari (bersama teman2 Angera lain). Waktu itu ia sangat antusias n dengan 'semangat 45' turut merancang acara reuni (via email), tapi sayang seribu sayang, saat waktunya tiba, ia berhalangan hadir. Alhamdulillah, dari foto ini kita lihat ia tampak sehat wal'afiat, segar ceria bersama keluarga kecilnya. Semoga foto2 ini dapat mengobati rasa kangen teman2 kepadanya.

Label:

Senin, November 10, 2008

Helmy-Neni: Dulu kini



Inget Neni? Pasti yang langsung teringat sosok jenaka yang selalu ceria dan sumringah. Neni (konsulat jatim) dan dalam gambar ini sedang bersaing dengan Waljinah pakai kebaya biru. Yang sisi kanan Neni coba bisa mengenali tidak? Helmi Widiati yang anteng dan nyeniman sekali. Helmi dulu aktif di Buana Citra dan aktif dengan pena lincahnya mencoret puisi. Kata "nosi" pertama mengenal dan mendengar dari puisi helmi. Yang sisi paling kiri Nur Farida Syukuri yang masih menyimpan foto ini. Mereka bertiga unjuk kebolehan berpantomim ria.



Diatas adalah cerita dulu. Mau lihat wajah mereka kini? Tidak banyak berubah. Neni masih segar awet muda dan ekspresif. Begitu reuni bertemu dengan helmi, langsung menghambur berkaca-kaca. Kalau Helmi? Masih bergaya eksentrik, anteng dan enteng, tapi penghayatan terhadap hidup sangat dalam dalam dan tangguh. Happy to have them around.

Label: ,

Rabu, Agustus 20, 2008

Yuni payyyaaaaaahhhh.....

Yun sebagai sahabat,
Aku tak meragukan kebaikanmu
Tak kuingkari ketulusanmu
Gak kupungkiri jasamu
Bahkan bahasamu tak pernah bisa kudebat.

Tapi...............
mengapa teganya memperlakukan Misriku
sampai sedemikian rupa
Hingga email padaku
Dan aku hanya bisa menangis huk....huk....huk....dan tertawa ha..ha...ha...

Dan biar aku tak menangis dan tertawa sendiri (ntar dikirain pasien RSJ), maka aku posting juga email Misri ini.

Lik.....kurang ajar Yuni tu.....Q krm email k dy n Q suruh FW k tmn2 kq mlh d mskke neng blog.....
dasaaaaarrrrrr......klo ini sih malu2in waris.....he5555555.........wes payah2......
wes g bs d prcy lg deeehhhhh.......he5555555......
Gmn Lik kbrmu?????.....ud jd d kiret kn?????? Q sengaja g ksh kbr k tmn2.....tkt Lilik g nyaman....
ok gtcu aj say......lv uuuuuuuu.........(ly)

Label: