Senin, Juni 29, 2009

Buka Mata Buka Hati: Bersama Ustaz Imam

Senin pagi jam 8 lewat secara tidak sengaja membuka Jak TV, dan terpampanglah wajah seorang ustadz yang wajahnya akrab di lingkungan kita.

Acaranya Media Natura. Presenternya cakep dan pintar. Tapi, sang ustadz lebih menarik. Gaya bertuturnya halus, lucu, dan tentu meyakinkan.

"Insya Allah. Kalau kita gak bisa buka mata, ya kita buka hati," kata sang Ustadz.

Di layar, dengan meyakinkan, sang ustadz memang menawarkan pengobatan lain. "Multi terapi," katanya. Ada pengobatan ala Cina, pengobatan herbal, hingga pendekatan spiritual.

Tapi, sang presenter sesekali nakal juga. "Mungkin orang Jawa bilang, Nggilani," kata sang presenter. Bukan apa-apa, karena di antara terapi sang ustadz juga memakai ujung lidah. Sampek penonton yg kebetulan lagi nonton rame-rame didepan TV dan kebetulan tahu ustaz Santosa orangnya jenaka, dengan iseng komentar, masak kita sebut ustad "tukang jilat".. Husshh... :)

Penonton usil lain bilang, "Kalau aku gakk maauuu. Timbang dijilatin ... Trimo Loro!!"..hushhh lagi!!

Penampilan sang ustadz emang kontroversial.. Minimal di lingkungan penonton yang usil-usil macam penonton diatas... tetapi yang jelas, ustaz ini bisa menyembuhkan aneka penyakit tetapi paling canggih spesialis mata. Selain dengan dijilat untuk mengangkat penyakit juga menggunakan air, obatan-obatan herbal. Dan dengan keunikan pengobatan itu rupanya aneka sakit mata banyak yang bisa disembuhkan. Banyak sudah pasien berpenyakit akut yang berhasil dipulihkannya.

Eh, nama Ustadznya: Ustadz Imam. Gak ada embel-embel Santoso sih. Tapi, yang mau ngecek langsung apakah itu Ustadz Imam Santoso atau bukan :), silakan hubungi klinik Anta Syifa. Alamatnya: Jl. PLN No. 38, Belakang Panti Asuhan Annajiyah, Pondok Aren, Tangerang. Telp. 021 738 84414, 0815 872 7662.

Selamat ya Ustadz.


(ditulis oleh anggota keluarga Angera yang kebetulan nonton saat on air di TV)

Label: ,

Jumat, November 21, 2008

Pentas Teater Sahid Aris Budiono





(Assalamualaikum Mas Aris dan semua pecinta blog angera...
Walau gerimis terus menerus mengguyur Kota Pekanbaru Jumat malam 14 November 2008 lalu, saya tetap berusaha menghadiri dan menonton pertunjukan teater Lab Sahid Jakarta yang mentas di Pekanbaru. Terus terang saja, kedatangan saya karena undangan SMS yang saya terima, teater tersebut pimpinan Mas Aris Budiono. Ditambah lagi Mas Aris langsung telpon saya apakah saya sudah mendapat undangan pementasan tersebut. Wah...tambah nggak enak deh kalau
ngga nonton. Wong sesekali datang ke Pekanbaru, kok, nggak ditonton gitu lho, apalagi pimpinannya dari alumni Pabelan. Ya, ikatan emosional itu selalu ada, makanya saya bela-belain nonton.
Saya nggak mau sendiri. Lalu saya undang teman-teman alumni Pabelan yang ada di Pekanbaru, Sawal dan meminta Sawal mengundang yang lainnya. Pada prinsipnya semua oke, tapi karena hujan yang tak berhenti dan cenderung semakin deras, banyak teman-teman yang batal. Hanya Sawal dan saya yang bisa hadir. Sengaja Miftah dan Meimun, Uus, nggak saya beritahu. Saya pikir pasti mereka nggak bakalan bisa. Selain hujan, tempat mereka agak jauh dari Taman Budaya.
Sesuai dengan permintaan Mas Aris, penampilan tersebut minta dikritisi atau semacamnya. Inilah dia tulisan tersebut yang dibuat teman saya wartawan Riau Pos . Semoga Mas Aris dan semuanya bisa menikmatinya).

Tubuh Itu Terlempar ke Ruang Hampa
* Pementasan Lab Teater Syahid Jakarta

Tubuh-tubuh bergerak kesana kemari, cepat, mekanis seperti gerak mesin. Bergetar seiring dengan lajunya muntahan larik-larik puisi
dalam dentuman musik disco yang memekakkan gendang telinga.

FRUSTASI, trauma, 'sinting' dalam kungkungan kehidupan yang glamor. Paling tidak, itulah kesan yang lahir ketika Lab Teater Syahid Jakarta mementaskan karyanya bertajuk Kubangan, Jumat (14/11) lalu, di Taman Budaya Riau.
Tubuh-tubuh yang bergetar tak henti itu dalam kondisi sakit yang akut bak pengidap penyakit parkinson. Trauma masa lalu,
carut-marut zaman kini dan ketidakjelasan tentang masa depan, menelurkan sistem beku yang membuat penjara dalam dirinya. Tubuh itu menjadi panik dalam merespon deras perubahan yang terus berlangsung. Tak ada pilihan, kecuali melakukan penyesuaian atas percepatan zaman yang terjadi.
Ingatan pahit masa lalu bermunculan seperti laron yang mengerubungi lampu neon dalam gulita. Namun tubuh itu, justru terlempar ke ruang personal dan menyeretnya pula ke ruang publik yang meriah lagi hampa. Ada kebencian yang menetaskan dendam untuk menapaki kerusuhan dan kekerasan. Sedang kedamaian yang diharap-harapkan justru semakin menjauh, nyaris tak terlihat.
Gambaran ini, dimaknai dengan bahasa simbol-simbol. Setiap tubuh, setiap kepala, setiap sikap yang bergetar di atas panggung yang ditata dengan semi panggung, larut dalam kepanikannya masing-masing. Saling curiga, tidak percaya yang dilontarkan dalam waktu bersamaan, cukup membuat penikmat sibuk mencari dan berusaha menemukan keinginan sang sutradara.
Kisah masa lalu yang tarik ke atas panggung oleh Bambang Prihadi selaku sutradara, berawal dari sebuah keresahan. Cerita dirangkai dengan membaca kejadian sekitar reformasi. Sangat banyak persoalan yang tidak terselesaikan. Jangankan membersihkan karat yang menjamur di pilar reformasi, untuk mengikis karat barupun tak mampu. Kompleksitas persoalan yang mendesak-desak akhirnya menciptakan jiwa-jiwa yang stagnan (jalan di tempat).
Stagnasi itu menjadi karya para spekulan, manipulator dan koruptor untuk merekayasa pasar kapitalis yang menawarkan kenikmatan inderawi. Alhasil, tubuh massa menjadi produk yang diperjualbelikan. Menjadi barang dagangan yang mengikuti trend kekinian yang laku di pasar bebas. Padahal kondisi mental itu masih gagap dengan cara berfikir yang lugu.
Pementasan berdurasi 45 menit itu cukup memikat hati dan rasa penasaran. Kenapa tidak, sejak awal tubuh-tubuh yang dimainkan delapan aktor/aktris tersebut tak kunjung diam. Getaran tubuh dan dialog yang menyatu memberikan nuansa baru bagi dunia pertunjukan teater di Riau. Meski upaya semacam itu, juga sudah dilakukan satu/dua komunitas, disini.
''Karya ini berawal dari sebuah puisi yang penah saya tulis sebelumnya. Lalu saya tawarkan kepada kawan-kawan lahirlah perdebatan yang dilanjutkan dengan proses latihan. Semua tubuh bergerak cepat, mekanis dan kondisi itu pula, sangat menyakitkan,'' tutur Bambang usai pementasan.
Selain melemparkan wacana berikut menawarkan harapan, pertunjukan itu mendapat apresiasi dari penikmat teater Kota Bertuah Pekanbaru yang meramaikan Gedung Olah Seni (GOS) Taman Budaya Riau, hingga larut malam. Bambang sendiri, menutup cerita dengan gambaran kepolosan dan ketelanjangan. Sebab mereka menyadari untuk menemukan formula ampuh menyelesaikan persoalan adalah dengan menelanjangi diri terlebih dahulu.
Tidak ada penokohan yang menonjol seperti karya panggung yang
menggunakan naskah-naskah seperti karya William Shakespeare, Anton Chekov ataupun Molier. Bukan aktor-aktor ciptaan Nano Riantiarno yang menguatkan cerita lewat tokoh sentral dan tokoh
pembantu. Bambang hanya menginginkan semua orang bicara tentang dirinya dan lingkungannya tanpa menonjolkan keakuannya. Ditambah lagi, dalog-dialog juga diciptakan dengan gaya anak muda yang lugas dan tegas.
Tidak hanya itu, pertukaran dekor atau setting tidak dilakukan dengan cara black out. Baik pelakon maupun kru, menukar dekor di depan penonton yang tampak tidak terganggu sama sekali. Bahkan pertukaran itu menjadi adegan pengikat antara satu dengan lainnya.
Musik dan ligthing juga menjadi lebih dominan sebab Bambang juga mengajak orang untuk menikmati suasana yang dilahirkannya. Hanya saja, kerap lampu dan musik hilang begitu saja tanpa dihantar sama sekali. Tapi tak satupun, penonton yang hadir meninggalkan tempat duduknya hingga sesi diskusi yang berlangsung selama satu jam berakhir.***

---------------------------------------------------------------------------------------
Nuri,
terus terang aku kaget banget kau posting pementasan
lab teater syahid di riau ke blog angera. tadinya aku pikir
gak ada hubungan, tapi ternyata teman2 ikpp di riau juga
coba dimobilisasi untuk nonoton, meski hujan jadi kendala.
aku jadi agak gak enak ati, kuatir dikira numpang 'ngaksi'.
ngomong2 ttg teater syahid, sebetulnya adalah grup teater
di lingkungan kampus uin ciputat, yang sejarahnya tak bisa
dilepaskan dari peran beberapa alumni pabelan: ada
muhamad hatta dan dewi arfiani yang pernah aktif di akhir
tahun 80an, di samping aku sendiri. bahkan solihul hadi
dulu juga pernah terlibat dalam pementasan.
keterlibatan teman2 alumni dalam kegiatan teater khususnya
dan kesenian pada umumnya, di kampus ciputat, sebenarnya
bisa dirunut ke belakang: mereka sudah aktif berkesenian sejak
di pondok, yang diwadahi oleh teater kereta (untuk santri putra)
dan sanggar buana citra (untuk santri putri).
saat ini, ada beberapa teman2 dari angkatan 2000an yang
menekuni bidang teater, seperti gatot prabowo yang jebolan
ikj jurusan teater (aku dulu juga jebolan ikj alias institut keagamaan
jakarta). beberapa waktu yang lalu, gatot dan beberapa teman
alumni bahkan sempat mengadakan pelatihan teater untuk para
santri di pabelan.
nuri,
terima kasih banyak untuk support dan apresiasinya
pada pementasan teater syahid di riau. keberhasilan pementasan
ini juga tak lepas dari dukungan penuh dari rekan muhibuddin (onga)
dan keluarga besarnya, sehingga teman-teman tidak kelaparan.
aku bersyukur karena telah terjalin sinergi yang sangat baik antar
alumni (keluarga besar ikpp). semoga ini menjadi awal yang baik
untuk sebuah kerjasama lain di masa2 mendatang.
jabat erat untuk teman2 di riau,
aries budiono

Kak Aries, maaf surat ini baru saya buka di email angera, dan sengaja saya posting, biar bisa jadi info bagi teman-teman yang lain. Tks (Lily)

Label:

Senin, Juli 28, 2008

Juragan Tegal Kita

Atien (Sad Suprihatin) sekarang tidak sad lagi, karena dia sekarang jadi pengusaha makmur besi tua di Tegal. Putri pertamanya masuk fak Kedokteran di Unisula. Nurhikmah? Istri almarhumah NurFauzan, sekarang sudah punya 3-4 momongan, putra tunggal dengan NurFauzan sudah kuliah di IKJ, calon sutradara. NurHikamah bisnis meubel dan springbed di Adiwerna Tegal.
"Aku juragan spring bed, tidur diatas lantai, ngerti gini aku bawa". Begitu candanya terpingkal-pingkal jelang tidur. Wawang/Suwangsih Kadarwati? Tidak tinggal di Tegal, tapi Sleman, pengusaha salon, studio musik dan suaminya anggota dewan di Madiun. Kalau Mamah? Juragan LSM...Mamah aktif bersahabat dengan komunitas, dulu pernah di Wonogiri, sekarang di Tegal. Sukses deh kawan-kawan kita Tegal!! Tapi satu yang nggak berubah, dari dulu mereka selalu ngumpul, ngomong "ngapak-ngapak", dan selalu jadi musuh bagian bahasa!! Di reunipun mereka nggerombol lagi, nggerombol lagi.... Susah jadi orang RRT alias Republik Rakyat Tegal (y)

Label:

Jumat, Juli 25, 2008

Nina Muídah: Guru yang menerbangkan murid2nya juara nasional.

Banjarmasin Post, Sabtu, 24-05-2008 01:43:26

Siswi Banjarmasin Juara Menulis Nasional: Sisihkan 15 Ribu Peserta

"TIGA hari sebelum berangkat ke Jakarta saya terserang demam dan flu. Mungkin nervous dan stres." Kini, penyakit itu tak lagi menyerang Husnul Athiya. Sebaliknya, hati siswi Madrasah Tsanawiyah Negeri Mulawarman Banjarmasin ini sedang berbunga-bunga.
Deman, flu, stres maupun nervous itu berujung pada kemenangan pada lomba menulis surat di kartu pos yang diselenggarakan PT Posindo dan Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) di Wisma Graha Wisata TMII Jakarta, 18-20 Mei 2008 lalu. Dia menjadi juara pertama, menyisihkan 23 nominator dari berbagai provinsi.
Lomba ini bertemakan nasihat kepada teman tentang makna Idul Adha. Inilah sedikit cuplikan goresan pena Husnul: "Idul Adha juga merupakan satu pembuktian persamaan derajat manusia. Hal ini bias dilihat Ketika semua manusia berkumpul di sekeliling ka’bah tak ada lagi perbedaan antara kaya dan miskin, pejabat atau rakyat biasa semuanya sama di mata Allah."
Tiap peserta mendapat kesempatan menulis surat selama dua jam. Namun, para peserta menyelesaikannya hanya selama satu jam. "Soalnya tulisannya cukup singkat, " ujar putri bungsu pasangan (Alm) Samhari Arsyad dan Siti Masrah kepada BPost, kemarin.
Tia ,--panggilan akrab Husnul--, mengetahui lomba ini dari guru Bahasa Indonesia di sekolahnya, Nina Muidah. Atas bantuan Nina pula, Tia menulis surat untuk seleksi awal kepada panitia. Ternyata dari 15 ribu peserta, dia masuk menjadi salah satu nominator.
"Saya benar-benar tak percaya ketika mendapat pemberitahuan masuk nominasi. Apalagi seusai lomba di Jakarta, diumumkan menjadi juara pertama," kata Tia.
Nina pun ikut bergembira. Dia mengatakan siswinya itu mempunyai bakat tulis menulis.
"Athiya anak yang sangat berbakat terutama dalam menulis. Namun, saya benar-benar tidak menyangka Athiya lah pemenang juara dengan menggeser 24 nominasi se-Indonesia yang hampir seluruhnya sangat penuh talenta," ujar Nina.))

Begitulah Nina Muidah dan muridnya diberitakan di Banjarmasin Post. Berikut obrolan ringan tapi dalam dengan Nina seorang dosen/guru yang tidak pernah lelah mengabdi. penting untuk dicerna kita semua, teruatma para pendidik-pendidik kita. Ini tutur Nina: "aku dulu pernah pintar karena dapat guru yang benar, makanya aku sekarang pingin muridku pintar dan aku berusaha jadi guru yang benar". Begitulah semangat dan jiwa putih Nina diceritakan kepada salah satu sobatnya. "Sekolah tempat aku dulu mengajar, sering jadi juara ini itu. Pas aku tinggal loyo! Rupanya satu orang kalau kita punya semangat untuk menggerakkan, pasti akan jadi"....Lalu ini kalimat semangat dia yang ditutur dengan teduh: "aku telusuri murid-muridku yang berbakat, lalu aku bina betul sampai di luar kelas sekalipun, terutama mereka yang bakat nulis atau bercerita. Alhamdulillah mereka bisa juara nasional. Aku sampai nggak enak sendiri harus sering ke Jakarta menemani murid2ku ikut lomba. Aku belajar nulis dari dulu kita buat Mading Angera. Aku merasa "Anak-anakku" banyak, walaupun anak biologisku sedang aku perjuangkan, makanya aku pindah sekolah biar tidak terlalu capek". Inilah kutipan-kutipan obrolan dari seorang Nina Muídah disudut warung Bakso Taman Mini disela istirahat menemani muridnya lomba. Satu hal lagi penyesalan lucu dia: "aku nyesal kenapa dulu nggak nakal, rupanya pintar saja tidak cukup! Aku lihat yang nakal-nakal banyak yang jadi. Aku dulu di Pabelan, orang pada kabur-kabur, aku anteng di kamar. Orang pada keluar minta izin, aku yang sibuk bikinkan izin mereka. Nakal itu perlu". Nah lo... Setuju bu guru!! (yc).

Label:

M.Miran: Kyai Reformis Masyarakat Samin

Kita perlu berbangga, sahabat kita M.Miran yang tampil bersahaja dan santai ini rupanya sering dikutip dalam beberapa penerbitan, karena peran pentingnya dalam proses reformasi masyarakat Samin. Ini beberapa kutipan yang bisa kita klik dari google, tinggal search: Miran Pabelan, keluarlah siapa dia. Sebetulnya menurut seorang kawan, Tempo pernah meliput soal dia, tapi tidak terekam di google.nl. Silahkan menyimak keunikan masyarakat Samin, medan perjuangan dan perannya.

Miran dikutip Pabelan Pos online edisi 39 April 1999 (penerbitan dinamika intelektual milik Univ Muhammadiyah Surakarta).

Lokasi yang terpencil menyebabkan Jepang (nama salah satu desa masyarakat Samin, tempat tinggal Miran-red) begitu lambat berkembang. Pedusunan yang kini berpenduduk 600 jiwa itu terletak sekitar 65 km arah barat daya Bojonegoro, tepatnya 5 km dari ruas jalan Cepu (Jateng) dan Ngawi (Jatim). Sejauh mata memandang, yang terbentang hanyalah pepohonan jati atau kembili (Dioscorea aculeata), berdiri kokoh di atas tanah kapur-tandus yang sungguh tidak bersahabat dengan tanaman jenis lain.

Ojek menjadi sarana transportasi paling efektif. Ongkosnya Rp 3.000,-. Tetapi kalau hujan, ban sepeda motor biasanya sulit berputar karena tanahnya begitu liat. Ongkosnya menjadi dua kali lipat. Jalan kaki akhirnya menjadi solusi yang paling tepat. Tapi warga Jepang sendiri lebih suka menempuhnya dengan jalan kaki. Makan waktu sejam.

“Lumayan melelahkan dan membuat perut lapar. Dan kondisi ini dimanfaatkan Isman (50), warga Kalimojo (sebelah utara Jepang) untuk buka warung di sekitar km 2,5. Kenapa bukan orang Jepang yang buka warung? "Itu tidak sesuai dengan ajaran Ki Samin," jelas Miran (33), tokoh pemuda Jepang”.

“Hingga saat ini, kalangan tua di Jepang memang masih sangat kuat memegang Saminisme. Dari segi keyakinan misalnya, meski dalam KTP tertera agama Islam, mereka belum melaksanakan amal ibadah sebagaimana mestinya. "Kalangan tua yang shalat hanya 10%," tutur M Miran (33) yang juga Takmir Masjid Al Huda Jepang”.

Dalam hal pakaian juga masih khas: memakai celana kolor-kombor-hitam, plus sarung. Kalangan tua seakan belum terasa sreg memakai celana panjang. Ini pula yang membedakan mereka dengan warga kampung lain.

Ciri lain yang masih tampak adalah arsitektur rumah. Dari sekitar 150 rumah yang ada, hampir semuanya berbentuk memanjang dengan pintu di samping. Ruangannya begitu luas dan lengang, saking sedikitnya perabotan yang ada. Dindingnya kayu, namun ada pula yang hanya kulit jati. Semua rumah sudah beratap genting, hal yang sulit ditemui sampai akhir 80-an lalu. Tetapi rumah tembok belum bisa dijumpai di Jepang. Hanya ada empat rumah berdinding batu bata, itu pun semi permanen. Pertanda betapa tingkat ekonominya masih begitu rendah.

Syukur sekarang generasi mudanya lebih terbuka. Faktor pendidikan dan pergaulan yang sudah semakin luas menyebabkan mereka lebih terbuka. Satu lagi, peran Islam yang membuat generasi muda Samin lebih dinamis. Sikap sabar, jujur, tak mau melukai hati orang lain yang terintegrasi dalam ajaran Saminisme, menjadi kian mengkilap akibat polesan lembut ajaran Islam. Jika kenakalan remaja di kampung lain menjadi hal yang lumrah, di Jepang bisa dibilang nol.

Sikap nonkooperatif kepada pemerintah pun tak ada lagi. Mereka tak pernah telat bayar pajak, meskipun kondisi ekonomi demikian sesak. Dulu mereka juga tak mau menikah di KUA, cukup disaksikan kerabat dan jadilah keluarga. Setelah diuber-uber petugas, baru mendaftar. Kini sebaliknya. Karena begitu taat, mereka tak mau kumpul layaknya suami/istri apabila belum tercatat di KUA, meskipun pernikahannya telah direstui.


Miran dalam artikel akademik: "Saminisme ditengah Perubahan Budaya " oleh Nursyam.

A. Komunitas Samin
Komunitas Samin ialah sekelompok orang yang mengikuti dan mempertahankan ajaran Samin Surosentiko yang muncul pada masa kolonial Belanda, yakni sekitar tahun 1890. Pada masa tersebut, masyarakat merasakan tekanan-tekanan dari pihak penjajah sebagai suatu siksaan kehidupan. Kemudian, mereka mencari cara untuk membebaskan diri dari tekanan tersebut. Ajaran Samin memberikan angin baru bagi masyarakat untuk keluar dari siksaan dan tekanan penjajah. Pada mulanya, komunitas Samin hanyalah merupakan perkumpulan (sami-sami) orang yang merasa senasib-seperjuangan serta sama rata dan sama rasa. Kemudian, perkumpulan ini berkembang luas, di mana pengikutnya tersebar di sekitar Blora, Pati, Kudus, Rembang dan perbatasan wilayah barat Bojonegoro.
Daerah kelompok (komunitas) Samin sangat lokal, sehingga daerah satu dengan lainnya tampak ada perbedaan dalam pemahaman aturan-aturan yang menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Di desanya, orang Samin merupakan sekelompok orang yang tidak suka bergaul dengan yang lainnya kecuali dengan orang Samin sendiri. Mereka memiliki bahasa sendiri untuk berkomuniaksi, tata cara kehidupan sendiri dan bahkan tradisi sendiri. Jika ingin berkomunikasi dengan orang luar, mereka memanfaatkan jasa kepala desa sebagai perantara. Dalam rangka pelestarian ajaran Samin sebagai pedoman tingkah laku, maka dilakukanlah pewarisan nilai-nilai (inkulturasi) pada ank-anak kecil, bahkan kepada orang dewasa.
Namun demikian, tradisi tersebut semakin luntur disebabkan oleh faktor internal yang berupa ketiadaan sarana pelestarian seperti ketiadaan teks-teks ajaran Samin, semakin melemahnya proses pengorganisasian kelompok dan ketiadaan tokoh kharismatik yang dapat menjaga wibawa Saminisme, disamping penetrasi faktor luar seperti semakin intensifnya penyiaran dakwah, bahkan melalui orang Samin sendiri. Strategi Departemen Agama Kabupaten Bojonegoro, misalnya, dengan membiayai kelanjutan pendidikan anak Samin yang cerdas (Mohamad Miran) di pesantren Pabelan, Jawa Tengah, ternyata cukup jitu. Dari situ kemudian berdirilah musholla Al-Huda yang menjadi sentra kegiatan keislaman.
Kehadiran Islam yang demikian itu, tentu saja menggusarkan hati orang-orang tua yang masih setia dengan ajaran Samin. Memang, masih terdapat generasi tua yang sangat menghormati ajaran Samin yang dipelopori oleh Hardjokardi, seorang penerus keturunan Samin Surosentiko. Anehnya, meskipun mereka menolak terhadap kehadiran ajaran Islam, akan tetapi mereka tetap terlibat dalam proses pembangunan musholla dan bahkan membiarkan anak-anak mereka untuk belajar agama Islam.
Dalam bidang pergaulan, mereka juga telah berubah. Dalam kesehariannya, mereka telah menggunakan bahasa pergaulan yang berbeda dengan bahasa ngoko (bahasa Jawa kasar) yang menandai bahasa rakyat jelata. Mereka juga sudah melakukan perkawinan di Kantor Urusan Agama (KUA), yang dahulunya dianggap tidak penting. Demikian pula penolakannya terhadap pembayaran pajak kepada negara juga sudah berubah. Jadi, penolakan terhadap pemuka agama dan negara telah mengalami perubahan-perubahan penting. (Yc)

Label:

Selasa, Mei 13, 2008

SURAT DARI ADIK-ADIK KITA DI MESIR

Ass. Wr. Wb. Salam kenal,mbak, kak, tadz, ustadzah. salam kenal dari saya dan juga kami, mewakili teman-teman alumni yang saat ini sedang kuliah di mesir. Kami memang alumni baru tapi senang sekali bisa liat pabelan tempo doeloe:).acara reuni itu kapan ya? saya rasanya ingin sekali berbagi wawasan dengan kakak-kakak alumni, tapi sayang tidak semua bisa pulang besok juni. kami hanya minta tambah doa saja supaya lancar dalam ujian yang insya allah selesai tanggal 10 juni. oh iya. sekedar informasi kami yang berada di mesir adalah
1. Muhammad Citradi ( Pabelan ) Saya sendiri:D
2. Firman setiawan ( jepara )
3. Riansah Tuahunse ( Sulawesi )
4. Mawardi ( Temanggung
5. M. Nur Hidayat ( Kebumemen)
6. B. Ahza Wildan A. ( Semarang )
7. Taufik Rohman ( Temanggung )
8. Harun Komarudin ( Jakarta ) dulu di pabelan sampai kelas 3.Disini kami tidak bisa menemukan kakak alumni. artinya mungkin kami angkatan pertama yang kesini. karena memang cerita kami kesini cukup rumit dan terkesan dadakan. ketika kami lulus KMI tahun 2006. Ibu saya ( Bu Nunun Nuki Aminten ) ingin sekali menyekolahkan saya ke Mesir. karena kebetulan ada info lalu mencoba masuk yang non beasiswa. karena untuk syarat beasiswa sendiri saya tidak cukup, akhirnya teman- teman yang lain ada yang juga berminat. kecuali Taufik dan Harun. Taufik memang Beasiswa disini. Harun berangkat dgn Alumni Tebu Ireng. Saya sendiri sedikit bingung kok bisa sampai mesir. notabene saya lebih tertarik belajar umum. dan jelas nilai saya lebih bagus di Umum. saya sebenernya lebih tertarik ke negara eropa ato amerika, tetapi ternyata mesir menarik!!!...kami masih kesulitan berbahasa arab akrena memang selain bahasa arabnya beda sekali juga kalo saya pribadi, bahasa arab saya jeblok. sala kenal saja. semoga tetap bisa bersilaturahmi.Wasalam (citradi73@yahoo.com)

Label:

Selasa, April 01, 2008

Santri Peluncur Ensiklopedi Hantusiana

Rudi Utomo: Pelopor penulis skenario mistik yang mulai sadar
(Terbit di Bisnis Indonesia,15/5/87 h.6)

Oleh NURUDIN ABDULLAH (Wartawan Bisnis Indonesia)
Kisah-kisah misteri masih menjadi fenomena menarik di industri hiburan Tanah Air. Hampir semua stasiun televisi menayangkan jenis film tersebut, diikuti sejumlah film layar lebar di bioskop, yang cukup diminati penonton. Fenomena masyarakat menyukai cerita misteri mulai terlihat ketika serial Kismis atau Kisah-Kisah Misteri ditayangkan
RCTI hingga 104 episode pada 1998. Rating iklan dan pemirsanya cukup tinggi.
Seseorang yang punya andil di balik tayangan Kismis itu bernama Rudi Utomo, penulis skenario muda yang mencintai profesinya sebagai mata pencaharian untuk membiayai kebutuhan
hidup keluarganya. Dia optimistis prospek penulis skenario cukup cerah mengingat banyaknya stasiun televisi berskala nasional maupun daerah yang pasti membutuhkan banyak
tayangan untuk menghibur pemirsa setianya.Seiring dengan hal itu, pertumbuhan
perfilman nasional juga menunjukkan peningkatan cukup signifikan, baik film sinetron dan film layar lebar serta film iklan yang mempromosikan produk barang dan jasa. Seluruh proses, menurut lelaki kelahiran Purwokerto, 18 Mei 1968, pembuatan film tersebut membutuhkan skenario yang menjelaskan alur cerita dan dialog para pemerannya Skenario juga menjadi acuan agar jalan cerita yang dibuat tetap berada dalam koridor yang telah disepakati pihak yang
paling berwenang yaitu penulis skenario, sutradara dan produser. Melihat tingginya kebutuhan film, bapak dari dua anak benama Dukatis Zulmi, 9, dan Mahya Bil Qisti, 7, mengaku akan terus eksis menjadi penulis skenario film yang sudah ditekuninya lebih dari
tujuh tahun. Adapun beberapa judul film yang skenarionya digarap oleh Rudi a.l. Kismis
atau Kisah Kisah Misteri diproduksi oleh Millenium Visitama, film TV Misteri (Virgo Putra Film) di TPI (2002), Jejak Kematian (Erna Santoso 2001) di Lativi, Misteri Dua Dunia dan Misteri Ilahi (Genta Buana Paramitha 2006) di Indosiar, serta Suratan Takdir dan Kuasa Ilahi
(Genta Buana Paramitha 2006) di SCTV. Dia juga menggarap skenario film bernuansa
komedi a.l. Sahur Dong Sahur ditayangkan TPI pada 2003-2004, Komedi Kriminal (Komik) diproduksi oleh rumah produksi Indigo yang ditayangkan TPI pada 2006, Stasiun Beos (Indigo/SCTV 2006), Santriwati Gaul (Star Vision) yang sedang ditayangkan TPI. “Saya masih menulis skenario film sinetron Santriwati Gaul yang masih ditayangkan di TPI pada setiap Minggu malam,” kata alumni Pondok Pesantren Pabelan Magelang Jateng angkatan 1981-1989.
Rudi yang senang menyanyi sambil memetik gitar itu mengakui anggapan orang bahwa film Kismis menjadi pionir film sejenis di Tanah Air. Penayangan film Kismis hingga 104 episode telah memicu hampir semua stasiun televisi nasional menyajikan film yang membuat bulu kuduk orang berdiri. Jebolan Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu merasa senang tetapi juga gusar, karena fenomena dari masyarakat yang ditulis dan difilmkan justru berdampak buruk, menjurus pada hal sirik.
Perbaiki skenario
Menyadari hal tersebut Rudi segara memperbaiki skenario berikutnya dengan memasukkan unsur dakwah, mengajak pemirsa menyikapi sesuatu yang mistik secara benar. “Walaupun belum proporsional, tetapi saya ingin membuat lebih berimbang dengan memasukkan unsur dakwah pada skenario film misteri yang saya buat,” katanya.Mantan redaktur majalah Netra, Yayasan Mitra Jakarta, itu mencoba konsisten dengan profesinya sebagai penulis skenario film, terutama yang bernuansa misteri dan komedi. Bahkan Rudi yang telah meluncurkan buku Hantusiana-Enseklopedi Hantu Nusantara (2007) juga berobsesi membentuk wadah untuk menghimpun penulis skenario film agar eksistensinya semakin diakui kalangan perfilman nasional.
Alasannya, masih banyak produsen film (production house/ PH) yang kurang menghargai kerja penulis skenario film dengan memberikan imbalan yang relatif rendah.
Padahal, skenario yang baik menentukan hampir 50% dari keberhasilan suatu film, karena sutradara bekerja berdasarkan skrip yang sudah dikompromikan dengan penulis.
Rendahnya apresiasi itu juga terlihat pada saat berlangsung event festival film atau ajang pemberian penghargaan film. Para penulis skenario seakan tidak punya andil atas film yang masuk nominasi. Padahal, di event serupa yang diselenggarakan di Hollywood, para penulis skenario mendapat penghargaan tinggi dan diberi kesempatan tampil berbicara di podium,
seperti bintang film dan sutradara yang film menang.

Label: