Jumat, Maret 13, 2009

Kelas Gedek Mental Beton

Siapa bilang material bangunan kelas menentukan mental n masa depan anak didik yang ada di dalamnya. Buktinya, santri2 Pabelan seperti contoh mereka di foto2 ini, nampak happy2 aja. Jangan tanya soal nyali, keberanian, daya saing intelektual, jiwa seni, kreatifitas, sportifitas, kesabaran, ketekunan, ketabahan, kesolehan, ketaatan kepada Allah, kepatuhan kepada Kyai n ortu, rasionalitas, kematangan, kemampuan bersosialisasi dengan siapapun, kecintaan terhadap sesama, alam n lingkungan, termasuk segala kebandelan darah mudanya, semua mereka punyai, sebagaimana yang dipunyai anak didik kelas2 mewah di lembaga mewah.
Semuanya itu, tentu karena para guru bersahaja yang mengajarkan ilmu dengan "hati"..
Karena Kyai Hamam yang bertindak sebagai sosok multi profesi. Beliau bisa sebagai Kyai, guru, pemimpin, motivator ulung, pembuka pikiran, seniman, arsitek, ahli tata bahasa, ahli tata krama (sopan santun/etiquet nasional n internasional seperti cara makan, berbicara, dll, di tiap khutbah beliau), ahli tata ruang pondok, penyuara cinta lingkungan hijau nan asri, politisi handal (meski bukan politikus formal) dan lain sebagainya... yang semuanya itu senantiasa berdengung, membahana, merasuk ke dalam pikiran dan hati santrinya. Al-hasil, santri2nya sama sekali tidak seperti "gedek" yang mudah hancur dan rapuh itu, tapi kuat, melebihi otot kawat balung besinya Gatot Kaca, kokoh melebihi bangunan beton jenis apa pun di dunia ini..
Santri putra angk'74 (k azet, k ali jago bayo, cs.),
nampak bangga n "pede abis" meski penghuni setia bangunan gedek.
Ruang kelas gedek multi fungsi, bisa tuk belajar, diskusi, rapat atau ngobrol santai
dan bisa juga mengubah fungsi meja menjadi bangku...
Waktu istirahat digunakan tuk macam2. Ada yang tetap duduk di kelas
sekedar menghafal ulang mahfudhot, muthola'ah, mencatat
atau ada yang beratraksi kecil menghibur diri bentaar aja..
Saat menunggu guru yang belum datang, santri bercengkrama,
rumpi2 isu terhangat di pondok atau main tebak2an: kira2 guru kita nanti pake baju apa ya? merah, hijau, kuning atau putih bulat2 hitam, seperti iklan artis sunsilk (zaman itu)?
kira2 guru kita nanti bergaya seperti apa ya? matanya berkedip2, berjalan miring,
tegap tak tergoyahkan, lesu lemas lunglai atau super ceria...?
Tampak kegembiraan kakak kita (angk'80): Aisyah, Nurfadhilah, Luluk Khumaidah, Erni, dll.
(siapa yang ingat nama mereka satu persatu?) /f.

Label:

7 Komentar:

Anonymous Anonim mengatakan...

Yang di kelas waru yang sedang ngintip-ngintip ke luar itu siapa, ya? Kalau intip santri putra, kayaknya nggak, deh. Sangat jarang santri lewat di samping waru. Oya, saya ingat, pasti ngintip Jumeri, pemuda kampung yang hitam legam tapi perkasa, itu lho???? Siapa yang masih ingat? Lily, pasti dikau ingat. Soalnya kita pernah 'berantem' kan ama dia soal lempar batu sembunyi tangan, yang dia tidak ketahui maknanya??? Lucunya lagi dan nggak bisa dipercaya, Jumeri pernah ngirim surat cinta ke santri. Hayyooo..siapa yang merasa????(nj)

13 Maret 2009 pukul 15.00  
Anonymous Anonim mengatakan...

Bukannya Nuri ngintip si " P I N G I "....hik4567
NUr...dulu " P I N G I " naksir kamu kan????hik4567/ms

13 Maret 2009 pukul 19.58  
Anonymous Anonim mengatakan...

Miss, kalau aku ditaksir PINGI, kamu ditaksir Jumeri aja, ya.
Aku emang suka dengan PINGI, apalagi kalau lihat dia nari E...SUMOLITE, SUMOLITE, SUMOLITE...QIF!!! Pada tahu nggak nih nyanyian dan tarian sumolite itu.(nj)

13 Maret 2009 pukul 20.34  
Anonymous Anonim mengatakan...

Hik4567.....
kamu juga sering di kejar2 ANWAR yang rumahnya di belakang ALAMSYAH kan?????
Dirimu nih banyak penggemarnya...gak cuma santri putra aja yang banyak KEPINCUT dirimu, orang PABELAN pun gak mau kalah ingin merebut hatimu juga...hik4567
waaaahhh...daya tarikmu luar biasa Nur...hik4567/ms

14 Maret 2009 pukul 06.35  
Anonymous Anonim mengatakan...

Kelas waru adalah kelas yang paling banyak fentilasinya..banyak lubang2, celah tuk liat pemandangan luar, banyak udara masuk, angin sepoi, segar...buat kita2 yang lagi belajar bisa terlena nguantuk beraaat, suara guru serasa nyanyian nina bobo,hehe, tapi yang ngeri, kadang banyak ulat dari daun waru itu, tapi akhirnya ulat jadi biasa, akrab spt teman kt, hehe. Bener, Pingi, Jumeri, idola Nuri n Misri, hehe. ftr.

14 Maret 2009 pukul 10.19  
Anonymous Anonim mengatakan...

Kalau aku tak ada yang terkesanselain kak Badar..Aq yang kesengsem, malah Fatra yang dipujanya dengan lagu yang seperti bunyi: Oh..Fatrawati..oh Fatrawati.." Ya terang yangpunya nama tersipu malu, danbilang" ah kak Badar kokgitu?". Kak Badar kebingungan dan heran..tapi dengan PD dia lanjutin..." oh..peragawati..oh..peragawati". Nah loh..rupanya peragawati bukan fatrawati.... salah lidah tapi tak salah dihati../y

14 Maret 2009 pukul 22.14  
Anonymous Anonim mengatakan...

Aku jadi ingat kak Badar juga nih. Eh, kak Badar itu baik banget lo sama kita2. Iya kan? Tuk kak Badar dimana pun berada sekarang, maafin kami yang buandel2 ya..terutama Yuni, kalo aku kan orang baik2, hikhik.ftr.

16 Maret 2009 pukul 14.25  

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda